KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya. sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul: “Objek
Pendidikan Persepektif dalam Surat At-Tahrim 6, Asy-Syu’ara’ 214, An-Nisa 170, ‘Abasa
1-3”. Dalam menyelesaikan makalah ini penulis telah berusaha untuk mencapai
hasil yang maksimum, tetapi dengan keterbatasan wawasan pengetahuan, pengalaman
dan kemampuan yang penulis miliki, maka penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna.
Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin
menyampaikan terima kasih kepada Dosen Pembimbing mata kuliah Tafsir Tarbawi
dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan
makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan
saran demi perbaikan dan sempurnanya makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi
para pembaca.
Kraksaan,18
oktober 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah..................................................................................... 1
C.
Manfaat dan Tujuan Penulisan ................................................................. 1
BAB II : PEMBAHASAN
A.
QS.
At Tahrim ayat 6........................................................................2
B.
QS.
Asy syu’ara’ 214.......................................................................4
C.
QS. An nisa’ ayat 170.........................................................................6
D.
QS. ‘abasa ayat 1-3..........................................................................8
BAB III: PENUTUP
A.
Kesimpulan ............................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Dalam sebuah pendidikan tentunya
terdapat sebuah subyek, obyek dan sarana-sarana lain yang sekiranya dapat
membantu terselenggaranya sebuah pendidikan. Allah SWT telah memerintahkan
kepada Rasul-Nya yang mulia, di dalam ayat-ayat yang jelas ini, agar dia
memberikan peringatan kepada keluarga dan sanak kerabat dulu kemudian kepada
seluruh umat manusia agar tidak seorang pun yang berprasangka jelek kepada nabi,
keluarga dan sanak kerabatnya.
Jika dia memulai dengan memberikan
peringatan kepada kelurga dan sanak kerabatnya, maka hal itu akan lebih
bermanfaat dan seruannya akan lebih berhasil. Allah juga menyuruh agar bersikap
tawadhu kepada pengikut-pengikut yang beriman, bersikap baik kepada mereka, dan
ikut menanggung kesusahan mereka yang mau menerima nasehat.
Dalam makalah ini akan sedikit membahas terkait dengan obyek Pendidikan berdasarkan
Al Qur’an. Yang terkandung dalam QS At Tahrim Ayat 6, QS. Asy Syu’araa Ayat
214, QS. An Nisaa’: 170, dan ‘abasa ayat 1-3.
B.
Rumusan MasalahLokasi
1. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS At Tahrim Ayat 6?
2. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS Asy Syu’araa Ayat 214?
3. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS.An Nisa’ayat 170?
4. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS. ‘abasa ayat 1-3?
1. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS At Tahrim Ayat 6?
2. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS Asy Syu’araa Ayat 214?
3. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS.An Nisa’ayat 170?
4. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS. ‘abasa ayat 1-3?
C.
Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS At Tahrim Ayat 6.
2. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan Asy Syu’araa Ayat 214.
3. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS. An Nisa’ Ayat 170.
4. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS. ‘Abasa Ayat 1-3.
1. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS At Tahrim Ayat 6.
2. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan Asy Syu’araa Ayat 214.
3. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS. An Nisa’ Ayat 170.
4. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS. ‘Abasa Ayat 1-3.
BAB II
PEMBAHASAN
OBJEK
PENDIDIKAN BERDASARKAN AL-QUR’AN
Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat ilmu pengetahuan, adanya tujuan pendidikan, subjek pendidikan,
metode pengajaran dan tentunya terdapat objek pendidikan pula. Dalam objek
pendidikan telah terserat dalam Al Qur’an, yaitu dalam surat At Tahrim ayat 6, Assyu’ara 214,AtTaubat 122 dan AnNisa’ 170.[1]
A.
QS. At Tahrim ayat 6,
قو
أنفسكم وأهلىكم ناراغلاظ شداد
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia
dan batu-batu; diatasnya malaikat-malaikat yang kasar-kasar, yang keras-keras,
yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka
dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Menurut Tafsir Al-Misbah: Ayat diatas memberi tuntunan kepada kaum
beriman bahwa : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu antara lain
dengan meneladani Nabi SAW dan pelihara juga keluarga kamu ( وأهليكم) yakni istri, anak-anak dan seluruh
yang berada di bawah tanggung jawab kamu dengan membimbing dan mendidik mereka
agar kamu semua terhindar dari api neraka (نار) dan yang bahan bakarnya adalah
manusia-manusia yang kafir dan juga batu-batu(والحجا رة) antara lain yang dijadikan
berhala-berhala.[2]
Di atasnya yakni yang menangani neraka itu dan bertugas menyiksa
penghuni-penghuni adalah malaikat-malaikat yang kasar-kasar hati dan
perlakuannya, yang keras-keras perlakuannya dalam melaksanakan tugas
penyiksaan, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada
mereka sehingga siksa yang mereka jatuhkan- kendati mereka kasar-tidak kurang
dan tidak juga berlebih dari apa yang diperintahkan Allah, yakni sesuai dengan
dosa dan kesalahan masing-masing penghuni neraka dan mereka juga senantiasa dan
dari saat ke saat mengerjakan dengan mudah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.
Asbabun Nuzul: diriwayatkan bahwa ketika ayat
ke 6 ini turun, Umar berkata: “Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami,
dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah
SAW. menjawab: “Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya
dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu
melakukannya. Begitulah caranya meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu
dijaga oleh malaikat yang kasar dan keras, mereka dikuasakan mengadakan
penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepadanya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda dari Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu
وَيُمَجِّسَانِهِ انِهِ وَيُنَصِّرَ يُهَوِّدَانِهِ فَأَبَوَاهُ الْفِطْرَةِ عَلَى يُوْلَدُ إِلاَّ مَوْلُوْدٍ مَا مِنْ
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda dari Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu
وَيُمَجِّسَانِهِ انِهِ وَيُنَصِّرَ يُهَوِّدَانِهِ فَأَبَوَاهُ الْفِطْرَةِ عَلَى يُوْلَدُ إِلاَّ مَوْلُوْدٍ مَا مِنْ
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang
tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun
seorang Majusi.[3]
Anak
terlahir dalam keadaan fitrah. Kewajiban orang tua merawatnya agar tidak
menyimpang dari jalan yang lurus, dan selamat dari api neraka. Selain itu, anak
yang shalih akan menjadi modal investasi bagi kedua orang tuanya. Maka jelas
bahwa tugas manusia tidak hanya menjaga dirinya sendiri, namun juga menjaga
keluarganya dari siksa neraka. Untuk dapat melaksanakan taat kepada Allah SWT,
tentunya harus dengan menjalankan segala perintahNya, serta menjauhi segala
laranganNya. Dan itu semua tak akan bisa terjadi tanpa adanya pendidikan
syari’at. Maka disimpulkan bahwa keluarga juga merupakan objek pendidikan.
Pentingnya pendidikan anak yang termasuk salah satu unsur keluarga, agar dia
selamat dunia dan akhirat. Anak bagi orang tua merupakan buah perkawinan yang
menyenangkan. Dibalik itu, anak adalah amanat atas orang tua. Tidak boleh
disia-siakan dan di sepelekan. Pelaksana amanah harus menjaga dengan baik
kondisi titipan agar tidak rusak. Sebab orang tua kelak akan ditanya tentang
tanggung jawabnya.
Kandungan dari
uraian diatas, dapat kita ambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan
pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain :
1. Niat yang lurus, semata-mata demi meraih
ridha Allah subhanahu wa ta’ala, melaksanakan syari’ah islam dan melaksanakan
dak’wah.
2. Pentingnya pendidikan Islam sejak dini .
3. Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.
2. Pentingnya pendidikan Islam sejak dini .
3. Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.
4. Bekal ‘ilmu adalah yang utama
5. Taqwa adalah kunci dalam memelihara diri kita sendiri dan keluarga kita dari api neraka.
6. Proses pembinaan selanjutnya dimulai dari orang-orang dekat, dimulai dari keluarga sampai teman-teman dekat.
7. Kesabaran memegang peranan penting.
Analisis Ayat Surat At Tahrim Ayat 6 dari
rumah tangga telah dimulai menanamkan iman
dan memupuk Islam. Karena dari rumah tangga
itulah akan terbentuk umat. Dan dalam umat itulah akan tegak masyarakat Islam.Masyarakat
Islam ialah suatu masyarakat yang bersamaan pandangan hidup, bersamaan penilaian terhadap alam.
Oleh sebab itu, maka orang yang
beriman tidak boleh pasif, artinya berdiam diri menungu saja. Nabi sudah
menjelaskan tanggung jawab dalam menegakkan iman. Yang mula-mula sekali
diperintahkan oleh Nabi ialah supaya memelihara diri sendiri lebih dahulu
supaya jangan masuk neraka. Setelah itu memelihara seluruh isi rumah tangga
(istri dan anak-anak) Dan
tanggung jawab yang terletak diatas pundak tiap-tiap orang menurut apa yang ditanggungjawabinya
akan ditanya tentang kepemimpinannya terhadap ahlinya, yaitu istri dan
anak-anaknya. Karena yang disebut itu adalah seisi rumah yang terletak dalam
tanggung jawab. Kadang-kadang seseorang memikul tanggung jawab sampai dua,
tiga. Jika ia imam dalam satu masyarakat dan dia pun sama dalam satu rumah,
maka keduanya pun di bawah tanggung jawabnya.
Supaya diri seseorang mempunyai pengaruh , berwibawa, dan disegani,
hendaklah perangai dan tungkah lakunya dapat dijadikan contoh oleh anak dan istrinya.
Hendaknya dia jadi kebanggaan bagi keluarga.
B. QS. Asy syu’ara’ 214,
Setelah memerintahkan Nabi Muhammad saw.
menghindari kemusyrikan, yang tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi
disentuh oleh kemusyrikan, kini ayat 214 berpesan lagi kepada beliau bahwa :
Hindarilah segala yang daoat mengundang murka Alloh, dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih.[4]
Pada ayat-ayat yang lalu
diterangkan hiburan Alloh kepada nabi Muhammad yang telah dikecewakan oleh
dikap kaumnya dalam menanggapi dakwah yang disampaikannya dengan mengatakan memang
demikian sikap orang-orang musyrik itu terhadap dakwah yang disampaikan kepada
mereka. pada ayat ini diterangkan bahwa Rosullulloh diperintahkan untuk
menyampaikan dakwah kepada kerabat-kerabatnya yang terdekat.
Alloh
memerintahkan Nabi muhammada agar menyampaikan agama kepada kerabatnya, dan
menyampaikan janji dan ancaman Alloh terhadap orang-orang yang mengingkari dan
menyekutukan-Nya.
Diriwayatkan oleh
al-bukhari, muslim, dan perawi lainnya dari Abu Hurairah bahwa ia berkata,”Tatkala
ayat ini turun, rasullullah lalu memanggil orang-orang quraish untuk berkumpul
di Bukit Safa. Diantara mereka ada yang datang sendiri, dan
ada yang mengirimkan wakilnya. Setelah berkumpul lalu Rasullullah
berkhutbah,”Wahai kaum Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka.
Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan member manfaat kepadamu. Wahai
sekalian Bani Ka’ab bin Lu’ai, selamatkanlah dirimu dari api api neraka, maka
sesunnguuhnya aku tidak mempunyai kesanngupan member mudarat dan tidak pula
member manfaat kepadamu. Hai Bani Qusai selamatkanlah dirimu dari api neraka.
Sesungguhnya aku tidak mempunya kesanggupan member mudarat dan tidak pula
member manfaat kepadamu. Ahi Baini Abdul manaf, selamatkanlah dirimu dari api
neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan untuk member mudarat
dan tidak pula member manfaat kepadamu, ketahuilah aku hanya dapat menghubungi
karibku di dunia ini saja’.
Ayat ini
diturunkan pada awal kedatangan Islam ketika Nabi Muhammad mulai melaksanakan
dakwahnya. Beliau mula-mula diperintahkan alloh agar menyeru keluarganya yang
terdekat. Setelah itu secarab berangsur-angsur menyeru masyarakat sekitarnya,
dan akhirnya kepada seluruh manusia.
Fitrah
beragama merupakan potensi yang mempunyai kecendrungan untuk berkembang. Namun
fitrah ini dipengaruhi oleh factor ekternal da internal.
Lingkungan
keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu
peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah
dominan. QS attahrim:6, menunjukkan bahwa orangtua mempunyai kesajiban untuk
memberikan pendidikan agama kepada anak dalam upaya menyelamatkan mereka dari
siksa api neraka.
“hai orang-orang yang
beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”[5]
Mengenai
pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan agama bagi anak, Nabi Muhammad
Saw. bersabda “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah(suci), maka
kedua orang tuanyalah anak itu menjadi yahudi, nashroni, atau majusi.
Di sini
jelas, perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti sebagai
objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh
manusia.
C. QS. An
nisa’ ayat 170,
Surat
An-Nisa’: 170
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ
فَآَمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (النساء: 170)
Artinya:“Wahai manusia,
sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa)
kebenaran dari Tuhan (Pembimbing dan Pemelihara) kamu, maka berimanlah kamu,
itulah yang lebih baik bagimu. dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak
merugikan Allah sedikitpun), karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi
itu adalah kepunyaan Allah dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 170)[6]
Setelah Allah
s.w.t. mengkritik ahlul kitab -Yahudi dan Nashrani- dan membantah
tuduhan-tuduhan mereka dalam ayat-ayat sebelumnya, maka dalam ayat 170 ini
Allah s.w.t. menasehati seluruh umat manusia dan memerintahkan mereka agar
beriman, karena argument yang ada telah jelas. Tidak ada alasan lagi untuk
berpaling darinya. Sebagaimana diketahui, bahwa kaum yahudi dahulu kala
senantiasa menunggu-nunggu datangnya al-masih (Isa) dan seorang Nabi, yaitu
Nabi Muhammad s.a.w. Bahkan mereka mengirimkan para pendeta dan ahli imu merka
untuk bertanya pada Nabi Yahya a.s., apakah ia merupakan al-masih yang disebut
dalam Taurat, ataukah Nabi akhir zaman. Namun Yahya menjawab “tidak”. Dengan
turunnya ayat di atas, sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan kaum Yahudi telah
terjawab, bahwa yang mereka nantikan selama ini sebagaimana disebutkan dalam
Taurat dan Injil, adalah Nabi Muhammad s.a.w. yang telah hadir di hadapan
mereka. Oleh karenanya, seharusnya mereka beriman padanya, karena iman itulah
yang akan menyucikan mereka dari segala kotoran dan najis, dan keimanan itulah
yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan abadi.
Walaupun ayat di
atas sebab turunnya adalah terkait dengan kaum Yahudi, namun bahasa yang
digunakan oleh Allah s.w.t. adalah bahasa yang bersifat umum, yaitu “Ya-ayyuhan-nasu”
yang artinya “wahai sekalian manusia’. Para
ulama menyebutkan bahwa kasus seperti ini sering terjadi, dan kemudian mereka
mengambil suatu kaedah sebagai berikut:
العِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ
السَّبَبِ
Sebagaimana diketahui,
memang ayat tersebut untuk kaum Yahudi secara asbabun-nuzulnya (sebab turunnya
ayat), namun yang menjadi pathokan adalah bahasa yang digunakan Allah
s.w.t. yang bersifat umum, yaitu “wahai sekalian manusia”.[8]
Menurut Quraish Shihab, kehadiran Rasul s.a.w.
yang dinyatakan dengan kata-kata, “datang kepada kamu” dan juga pernyataan
bahwa yang beliau bawa adalah tuntunan dari “Tuhan (Pembimbing dan
Pemelihara) kamu”, itu dimaksudkan sebagai rangsangan kepada mitra bicara
(kamu) agar menerima siapa yang datang dan menerima apa yang dibawanya. Karenanya,
wajib bagi yang didatangi untuk menyambutnya dengan gembira.
Dengan
demikian, sesungguhnya ayat ini berkaitan dengan objek pendidikan secara
global, yaitu seluruh umat manusia, tanpa terkecuali. Artinya menjadi kewajiban
setiap muslim untuk memiliki misi mendidik seluruh umat manusia. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Allah dalam surat Ali Imran: 110, bahwasanya umat Islam
adalah khaira ummah atau umat yang terbaik.
D. QS.
‘abasa ayat 1-3
عبس وتولى (1) ان جاءه الاعمى (2) وما يدريك لعله
يزكى (3)
Artinya: Dia
(Muhammad) bermuka masam dan berpaling,karena telah datang seorang buta
kepadanya. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) . (QS. ‘abasa ayat 1-3)[9]
Orang buta itu bernama Abdullah bin Ummi
Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w. meminta ajaran-ajaran tentang
Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena
beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar
pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagi
teguran kepada Rasulullah s.a.w.
Tafsir singkat
Dalam tafsir
Jalalain di jelaskan tentang sebuah peristiwa ketika Nabi sedang berdakwah di
hadapan para pembesar Qurays. Datanglah seorang laki-laki yang bernama Abdullah
bin Umi MakTum. (Dia telah bermuka masam) yakni Nabi Muhammad telah
bermuka masam (dan berpaling) yaitu memalingkan mukanya karena, (telah datang
seorang buta kepadanya) yaitu Abdullah bin Umi Maktum. Nabi saw.[10]
tidak melayaninya karena pada saat itu ia sedang sibuk menghadapi
orang-orang yang diharapkan untuk dapat masuk Islam, mereka terdiri dari
orang-orang terhormat kabilah Quraisy, dan ia sangat menginginkan mereka masuk
Islam. Sedangkan orang yang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum tidak
mengetahui kesibukan Nabi saw. pada waktu itu, karena ia buta. Maka Abdullah
bin Umi Maktum langsung menghadap dan berseru, "Ajarkanlah kepadaku
apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadamu." Akan tetapi Nabi saw. Pergi
berpaling darinya menuju ke rumah, maka turunlah wahyu yang menegur sikapnya
itu, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam surat ini. Nabi saw. setelah itu,
apabila datang Abdullah bin Umi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu
mengatakan, "Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku
karenanya," lalu beliau menghamparkan kain serbannya sebagai tempat duduk
Abdullah bin Umi Maktum.
Kaitannya dengan pendidikan adalah:
1.
Setiap insan berhak memperoleh pendidikan, tanpa mengenal ras, suku bangsa,
agama maupun
kondisi pribadi/fisik dan perekonomiannya (Pendidikan Inklusif)
2. Sebagai seorang
pendidik harus bijak dalam menghadapi anak didiknya dan tidak membeda-bedakan
hanya karena fisik yang tidak sempurna.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
1. Dalam QS At Tahrim Ayat 6 ini menunjukkan perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka dan merupakan tarbiyah untuk diri sendiri dan keluarga.
2. Dalam QS. Asy Syu’araa Ayat 214 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan dalam ayat ini diutamakan adalah kerabat terdekat dari kita dan orang-orang yang dekat kepada azab Allah Swt.
3. Dalam QS. An Nisaa’: 170 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan adalah seluruh manusia baik yang muslim maupun non muslim merupakan objek dakwah dan tarbiyah. Namun disini perlu diluruskan, bahwa proses dakwah dan tarbiyah tidak harus dengan kekerasan dan perang, tetapi dengan jalan yang hikmah, mauidzoh hasanah, dan argumen yang bertanggung jawab.
1. Dalam QS At Tahrim Ayat 6 ini menunjukkan perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka dan merupakan tarbiyah untuk diri sendiri dan keluarga.
2. Dalam QS. Asy Syu’araa Ayat 214 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan dalam ayat ini diutamakan adalah kerabat terdekat dari kita dan orang-orang yang dekat kepada azab Allah Swt.
3. Dalam QS. An Nisaa’: 170 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan adalah seluruh manusia baik yang muslim maupun non muslim merupakan objek dakwah dan tarbiyah. Namun disini perlu diluruskan, bahwa proses dakwah dan tarbiyah tidak harus dengan kekerasan dan perang, tetapi dengan jalan yang hikmah, mauidzoh hasanah, dan argumen yang bertanggung jawab.
4. Dalam qs. ‘abasa: 1-3 menunjukkan orang buta itu
bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w.
meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan
berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan
pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat
ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.
Daftar pustaka
Ø Tafsir
JalallainDepag RI. 2000.Al Quran dan Terjemahannya, Edisi Baru. Surabaya: CV
Karya Utama .
Ø Hadhiri,
Choiruddin. 1995. Klasifikasi Kandungan Al Quran. Jakarta: Gema Insani Press.
Ø Shihab, M.
Quraish, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta, Lentera Hati, 2001, cet. I.
Ø Shihab, M
Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 10.
Jakarta:Lentera Hati,2002.
Ø Ahmad Musthafa, A-Maraghi. “Tafsir
Al-Maraghi Juz 6”. Penerbit: CV Toha Putra, Semarang 1993.
Ø Al-Iman Muhammad’Usman Abdullah Al-Mirgani. “Mahkota
Tafsir jilid I”. Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung. 2009.
Ø M. Quraish Shihab. “Tafsir Al-Mishbah Volume
2” Penerbit: Lentera hati, Ciputat 2000.
[2] M Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran
Vol 10. Jakarta:Lentera Hati,2002.
[9] Al-Iman
Muhammad’Usman Abdullah Al-Mirgani. “Mahkota Tafsir jilid I”. Penerbit:
Sinar Baru Algensindo, Bandung. 2009.
[10] Tafsir JalallainDepag RI. 2000.Al Quran dan Terjemahannya, Edisi
Baru. Surabaya: CV Karya Utama