ali

ali

Minggu, 18 Oktober 2015

OBJEK PENDIDIKAN BERDASARKAN AL-QUR’AN

KATA PENGANTAR
            Puji syukur atas kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul: “Objek Pendidikan Persepektif dalam Surat At-Tahrim 6, Asy-Syu’ara’ 214, An-Nisa 170, ‘Abasa 1-3”. Dalam menyelesaikan makalah ini penulis telah berusaha untuk mencapai hasil yang maksimum, tetapi dengan keterbatasan wawasan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan yang penulis miliki, maka penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.
Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada Dosen Pembimbing mata kuliah Tafsir Tarbawi dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan sempurnanya makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi para pembaca.









                                                                   Kraksaan,18 oktober 2015
                                                                                               Penulis



DAFTAR ISI
                                                                                    
 KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
 DAFTAR ISI  .................................................................................................... ii
 BAB I : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah..................................................................................... 1
C.     Manfaat dan Tujuan Penulisan ................................................................. 1
 BAB II : PEMBAHASAN
A.    QS. At Tahrim ayat 6........................................................................2
B.     QS. Asy syu’ara’ 214.......................................................................4
C.     QS. An nisa’ ayat 170.........................................................................6
D.    QS. ‘abasa ayat 1-3..........................................................................8
 BAB III: PENUTUP                                                                                              
A.    Kesimpulan ............................................................................................ 10
 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................11




 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.
Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat sebuah subyek, obyek dan sarana-sarana lain yang sekiranya dapat membantu terselenggaranya sebuah pendidikan. Allah SWT telah memerintahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, di dalam ayat-ayat yang jelas ini, agar dia memberikan peringatan kepada keluarga dan sanak kerabat dulu kemudian kepada seluruh umat manusia agar tidak seorang pun yang berprasangka jelek kepada nabi, keluarga dan sanak kerabatnya.
Jika dia memulai dengan memberikan peringatan kepada kelurga dan sanak kerabatnya, maka hal itu akan lebih bermanfaat dan seruannya akan lebih berhasil. Allah juga menyuruh agar bersikap tawadhu kepada pengikut-pengikut yang beriman, bersikap baik kepada mereka, dan ikut menanggung kesusahan mereka yang mau menerima nasehat.
Dalam makalah ini akan sedikit membahas terkait dengan obyek Pendidikan berdasarkan Al Qur’an. Yang terkandung dalam QS At Tahrim Ayat 6, QS. Asy Syu’araa Ayat 214, QS. An Nisaa’: 170, dan ‘abasa ayat 1-3.

    B. Rumusan MasalahLokasi
        1. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS At Tahrim Ayat 6?
        2. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS Asy Syu’araa Ayat 214?
        3. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS.An Nisa’ayat 170?
       
4. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS. ‘abasa ayat 1-3?

    C. Tujuan Pembahasan
        1. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS At Tahrim Ayat 6.
        2. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan Asy Syu’araa Ayat 214.
        3. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS. An Nisa’ Ayat 170.
        4. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS. ‘Abasa Ayat 1-3.
                                           
BAB II
PEMBAHASAN
OBJEK PENDIDIKAN BERDASARKAN AL-QUR’AN
       Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat ilmu pengetahuan, adanya tujuan pendidikan, subjek pendidikan, metode pengajaran dan tentunya terdapat objek pendidikan pula. Dalam objek pendidikan telah terserat dalam Al Qur’an, yaitu dalam surat At Tahrim ayat 6,  Assyu’ara 214,AtTaubat 122 dan AnNisa’ 170.[1]
A.       QS. At Tahrim ayat 6,
قو أنفسكم وأهلىكم ناراغلاظ شداد
      Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu; diatasnya malaikat-malaikat yang kasar-kasar, yang keras-keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Menurut Tafsir Al-Misbah:  Ayat diatas memberi tuntunan kepada kaum beriman bahwa : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu antara lain dengan meneladani Nabi SAW dan pelihara juga keluarga kamu ( وأهليكم) yakni istri, anak-anak dan seluruh yang berada di bawah tanggung jawab kamu dengan membimbing dan mendidik mereka agar kamu semua terhindar dari api neraka (نار) dan yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia yang kafir dan juga batu-batu(والحجا رة) antara lain yang dijadikan berhala-berhala.[2] Di atasnya yakni yang menangani neraka itu dan bertugas menyiksa penghuni-penghuni adalah malaikat-malaikat yang kasar-kasar hati dan perlakuannya, yang keras-keras perlakuannya dalam melaksanakan tugas penyiksaan, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka sehingga siksa yang mereka jatuhkan- kendati mereka kasar-tidak kurang dan tidak juga berlebih dari apa yang diperintahkan Allah, yakni sesuai dengan dosa dan kesalahan masing-masing penghuni neraka dan mereka juga senantiasa dan dari saat ke saat mengerjakan dengan mudah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.
       Asbabun Nuzul: diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6 ini turun, Umar berkata: “Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah SAW. menjawab: “Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang kasar dan keras, mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda dari Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu

وَيُمَجِّسَانِهِ                     انِهِ وَيُنَصِّرَ يُهَوِّدَانِهِ فَأَبَوَاهُ الْفِطْرَةِ عَلَى يُوْلَدُ إِلاَّ مَوْلُوْدٍ مَا مِنْ
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi.[3]
       Anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kewajiban orang tua merawatnya agar tidak menyimpang dari jalan yang lurus, dan selamat dari api neraka. Selain itu, anak yang shalih akan menjadi modal investasi bagi kedua orang tuanya. Maka jelas bahwa tugas manusia tidak hanya menjaga dirinya sendiri, namun juga menjaga keluarganya dari siksa neraka. Untuk dapat melaksanakan taat kepada Allah SWT, tentunya harus dengan menjalankan segala perintahNya, serta menjauhi segala laranganNya. Dan itu semua tak akan bisa terjadi tanpa adanya pendidikan syari’at. Maka disimpulkan bahwa keluarga juga merupakan objek pendidikan. Pentingnya pendidikan anak yang termasuk salah satu unsur keluarga, agar dia selamat dunia dan akhirat. Anak bagi orang tua merupakan buah perkawinan yang menyenangkan. Dibalik itu, anak adalah amanat atas orang tua. Tidak boleh disia-siakan dan di sepelekan. Pelaksana amanah harus menjaga dengan baik kondisi titipan agar tidak rusak. Sebab orang tua kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya.
        Kandungan dari uraian diatas, dapat kita ambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain :
1. Niat yang lurus, semata-mata demi meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala, melaksanakan            syari’ah islam dan melaksanakan dak’wah.
2. Pentingnya pendidikan Islam sejak dini .
3. Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.

4. Bekal ‘ilmu adalah yang utama
5. Taqwa adalah kunci dalam memelihara diri kita sendiri dan keluarga kita dari api neraka.
6. Proses pembinaan selanjutnya dimulai dari orang-orang dekat, dimulai dari keluarga sampai teman-teman dekat.
7. Kesabaran memegang peranan penting
.
        Analisis Ayat Surat At Tahrim Ayat 6 dari rumah tangga telah dimulai menanamkan iman dan memupuk Islam. Karena dari rumah tangga itulah akan terbentuk umat. Dan dalam umat itulah akan tegak masyarakat Islam.Masyarakat Islam ialah suatu  masyarakat  yang  bersamaan pandangan hidup, bersamaan penilaian terhadap alam.
Oleh sebab itu, maka orang yang beriman tidak boleh pasif, artinya berdiam diri menungu saja. Nabi sudah menjelaskan tanggung jawab dalam menegakkan iman. Yang mula-mula sekali diperintahkan oleh Nabi ialah supaya memelihara diri sendiri lebih dahulu supaya jangan masuk neraka. Setelah itu memelihara seluruh isi rumah tangga (istri dan anak-anak) Dan tanggung jawab yang terletak diatas pundak tiap-tiap orang menurut apa yang ditanggungjawabinya akan ditanya tentang kepemimpinannya terhadap ahlinya, yaitu istri dan anak-anaknya. Karena yang disebut itu adalah seisi rumah yang terletak dalam tanggung jawab. Kadang-kadang seseorang memikul tanggung jawab sampai dua, tiga. Jika ia imam dalam satu masyarakat dan dia pun sama dalam satu rumah, maka keduanya pun di bawah tanggung jawabnya.
      Supaya diri seseorang mempunyai pengaruh , berwibawa, dan disegani, hendaklah perangai dan tungkah lakunya dapat dijadikan contoh oleh anak dan istrinya. Hendaknya dia jadi kebanggaan bagi keluarga.
   B.  QS. Asy syu’ara’ 214,
       Setelah memerintahkan Nabi Muhammad saw. menghindari kemusyrikan, yang tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi disentuh oleh kemusyrikan, kini ayat 214 berpesan lagi kepada beliau bahwa : Hindarilah segala yang daoat mengundang murka Alloh, dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih.[4]
        Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan hiburan Alloh kepada nabi Muhammad yang telah dikecewakan oleh dikap kaumnya dalam menanggapi dakwah yang disampaikannya dengan mengatakan memang demikian sikap orang-orang musyrik itu terhadap dakwah yang disampaikan kepada mereka. pada ayat ini diterangkan bahwa Rosullulloh diperintahkan untuk menyampaikan dakwah kepada kerabat-kerabatnya yang terdekat.
        Alloh memerintahkan Nabi muhammada agar menyampaikan agama kepada kerabatnya, dan menyampaikan janji dan ancaman Alloh terhadap orang-orang yang mengingkari dan menyekutukan-Nya.
        Diriwayatkan oleh al-bukhari, muslim, dan perawi lainnya dari Abu Hurairah bahwa ia berkata,”Tatkala ayat ini turun, rasullullah lalu memanggil orang-orang quraish untuk berkumpul di Bukit Safa. Diantara mereka ada yang datang sendiri, dan ada yang mengirimkan wakilnya. Setelah berkumpul lalu Rasullullah berkhutbah,”Wahai kaum  Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan member manfaat kepadamu. Wahai sekalian Bani Ka’ab bin Lu’ai, selamatkanlah dirimu dari api api neraka, maka sesunnguuhnya aku tidak mempunyai kesanngupan member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu. Hai Bani Qusai selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunya kesanggupan member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu. Ahi Baini Abdul manaf, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan  untuk member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu, ketahuilah aku hanya dapat menghubungi karibku di dunia ini saja’.
       Ayat ini diturunkan pada awal kedatangan Islam ketika Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwahnya. Beliau mula-mula diperintahkan alloh agar menyeru keluarganya yang terdekat. Setelah itu secarab berangsur-angsur menyeru masyarakat sekitarnya, dan akhirnya kepada seluruh manusia.
        Fitrah beragama merupakan potensi yang mempunyai kecendrungan untuk berkembang. Namun fitrah ini dipengaruhi oleh factor ekternal da internal.
         Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah dominan. QS attahrim:6, menunjukkan bahwa orangtua mempunyai kesajiban untuk memberikan pendidikan agama kepada anak dalam upaya menyelamatkan mereka dari siksa api neraka.
         “hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”[5]
Mengenai pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan agama bagi anak, Nabi Muhammad Saw. bersabda “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah(suci), maka kedua orang tuanyalah anak itu menjadi yahudi, nashroni, atau majusi.
Di sini jelas, perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia.
C.   QS. An nisa’ ayat 170,
Surat An-Nisa’: 170
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآَمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (النساء: 170)
        Artinya:“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhan (Pembimbing dan Pemelihara) kamu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun), karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 170)[6]
       Setelah Allah s.w.t. mengkritik ahlul kitab -Yahudi dan Nashrani- dan membantah tuduhan-tuduhan mereka dalam ayat-ayat sebelumnya, maka dalam ayat 170 ini Allah s.w.t. menasehati seluruh umat manusia dan memerintahkan mereka agar beriman, karena argument yang ada telah jelas. Tidak ada alasan lagi untuk berpaling darinya. Sebagaimana diketahui, bahwa kaum yahudi dahulu kala senantiasa menunggu-nunggu datangnya al-masih (Isa) dan seorang Nabi, yaitu Nabi Muhammad s.a.w. Bahkan mereka mengirimkan para pendeta dan ahli imu merka untuk bertanya pada Nabi Yahya a.s., apakah ia merupakan al-masih yang disebut dalam Taurat, ataukah Nabi akhir zaman. Namun Yahya menjawab “tidak”. Dengan turunnya ayat di atas, sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan kaum Yahudi telah terjawab, bahwa yang mereka nantikan selama ini sebagaimana disebutkan dalam Taurat dan Injil, adalah Nabi Muhammad s.a.w. yang telah hadir di hadapan mereka. Oleh karenanya, seharusnya mereka beriman padanya, karena iman itulah yang akan menyucikan mereka dari segala kotoran dan najis, dan keimanan itulah yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan abadi.
       Walaupun ayat di atas sebab turunnya adalah terkait dengan kaum Yahudi, namun bahasa yang digunakan oleh Allah s.w.t. adalah bahasa yang bersifat umum, yaitu “Ya-ayyuhan-nasu” yang artinya “wahai sekalian manusia’. Para ulama menyebutkan bahwa kasus seperti ini sering terjadi, dan kemudian mereka mengambil suatu kaedah sebagai berikut:
العِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ
      Artinya: “Standar/kriteria (sesuatu) itu adalah umumnya lafadz (bahasa), bukan khususnya sebab.”[7]
      Sebagaimana diketahui, memang ayat tersebut untuk kaum Yahudi secara asbabun-nuzulnya (sebab turunnya ayat), namun yang menjadi pathokan adalah bahasa yang digunakan Allah s.w.t. yang bersifat umum, yaitu “wahai sekalian manusia”.[8]
       Menurut Quraish Shihab, kehadiran Rasul s.a.w. yang dinyatakan dengan kata-kata, “datang kepada kamu” dan juga pernyataan bahwa yang beliau bawa adalah tuntunan dari “Tuhan (Pembimbing dan Pemelihara) kamu”, itu dimaksudkan sebagai rangsangan kepada mitra bicara (kamu) agar menerima siapa yang datang dan menerima apa yang dibawanya. Karenanya, wajib bagi yang didatangi untuk menyambutnya dengan gembira.
      Dengan demikian, sesungguhnya ayat ini berkaitan dengan objek pendidikan secara global, yaitu seluruh umat manusia, tanpa terkecuali. Artinya menjadi kewajiban setiap muslim untuk memiliki misi mendidik seluruh umat manusia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Allah dalam surat Ali Imran: 110, bahwasanya umat Islam adalah khaira ummah atau umat yang terbaik.
D.   QS. ‘abasa ayat 1-3
عبس وتولى (1) ان جاءه الاعمى (2) وما يدريك لعله يزكى (3)
    Artinya:  Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,karena telah datang seorang buta kepadanya. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) . (QS. ‘abasa ayat 1-3)[9]
      Orang buta itu bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w. meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.
            Tafsir singkat
       Dalam tafsir Jalalain di jelaskan tentang sebuah peristiwa ketika Nabi sedang berdakwah di hadapan para pembesar Qurays. Datanglah seorang laki-laki yang bernama Abdullah bin Umi MakTum.  (Dia telah bermuka masam) yakni Nabi Muhammad telah bermuka masam (dan berpaling) yaitu memalingkan mukanya karena, (telah datang seorang buta kepadanya) yaitu Abdullah bin Umi Maktum. Nabi saw.[10]  tidak melayaninya karena pada saat itu ia sedang sibuk menghadapi orang-orang yang diharapkan untuk dapat masuk Islam, mereka terdiri dari orang-orang terhormat kabilah Quraisy, dan ia sangat menginginkan mereka masuk Islam. Sedangkan orang yang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum tidak mengetahui kesibukan Nabi saw. pada waktu itu, karena ia buta. Maka Abdullah bin Umi Maktum langsung menghadap dan berseru, "Ajarkanlah kepadaku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadamu." Akan tetapi Nabi saw. Pergi berpaling darinya menuju ke rumah, maka turunlah wahyu yang menegur sikapnya itu, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam surat ini. Nabi saw. setelah itu, apabila datang Abdullah bin Umi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu mengatakan, "Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku karenanya," lalu beliau menghamparkan kain serbannya sebagai tempat duduk Abdullah bin Umi Maktum.
    Kaitannya dengan pendidikan  adalah:
        1.  Setiap insan berhak memperoleh pendidikan, tanpa mengenal ras, suku bangsa, agama           maupun kondisi  pribadi/fisik dan perekonomiannya (Pendidikan Inklusif)
       2. Sebagai seorang pendidik harus bijak dalam menghadapi anak didiknya dan tidak                     membeda-bedakan hanya karena fisik yang tidak sempurna.







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
     1. Dalam QS At Tahrim Ayat 6 ini menunjukkan perintah untuk menjaga diri dan keluarga          dari api neraka dan merupakan tarbiyah untuk diri sendiri dan keluarga.
     2. Dalam QS. Asy Syu’araa Ayat 214 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan dalam           ayat ini diutamakan adalah kerabat terdekat dari kita dan orang-orang yang dekat                    kepada azab Allah Swt.
     3. Dalam QS. An Nisaa’: 170 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan adalah seluruh           manusia baik yang muslim maupun non muslim merupakan objek dakwah dan tarbiyah.          Namun disini perlu diluruskan, bahwa proses dakwah dan tarbiyah tidak harus dengan            kekerasan dan perang, tetapi dengan jalan yang hikmah, mauidzoh hasanah, dan                      argumen yang bertanggung jawab.
    4. Dalam qs. ‘abasa: 1-3 menunjukkan orang buta itu bernama Abdullah bin Ummi     Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w. meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.




     





Daftar pustaka
Ø  Tafsir JalallainDepag RI. 2000.Al Quran dan Terjemahannya, Edisi Baru. Surabaya: CV Karya Utama .
Ø  Hadhiri, Choiruddin. 1995. Klasifikasi Kandungan Al Quran. Jakarta: Gema Insani Press.
Ø  Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta, Lentera Hati, 2001, cet. I.
Ø  Shihab, M Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 10. Jakarta:Lentera Hati,2002.
Ø  Ahmad Musthafa, A-Maraghi. “Tafsir Al-Maraghi Juz 6”. Penerbit: CV Toha Putra, Semarang 1993.
Ø  Al-Iman Muhammad’Usman Abdullah Al-Mirgani. “Mahkota Tafsir jilid I”. Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung. 2009.
Ø  M. Quraish Shihab. “Tafsir Al-Mishbah Volume 2” Penerbit: Lentera hati, Ciputat 2000.




[1] M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta, Lentera Hati, 2001, cet. I.
[2] M Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 10. Jakarta:Lentera Hati,2002.
[3] Ahmad Musthafa, A-Maraghi. “Tafsir Al-Maraghi Juz 6”. Penerbit: CV Toha Putra, Semarang 1993.
[4] Tafsir JalallainDepag RI. 2000.Al Quran dan Terjemahannya, Edisi Baru. Surabaya: CV Karya Utama

[5] Hadhiri, Choiruddin. 1995. Klasifikasi Kandungan Al Quran. Jakarta: Gema Insani Press.
[6]. M. Quraish Shihab. “Tafsir Al-Mishbah Volume 2” Penerbit: Lentera hati, Ciputat 2000.
[7] Hadhiri, Choiruddin. 1995. Klasifikasi Kandungan Al Quran. Jakarta: Gema Insani Press.
[8] Ahmad Musthafa, A-Maraghi. “Tafsir Al-Maraghi Juz 6”. Penerbit: CV Toha Putra, Semarang 1993.

[9] Al-Iman Muhammad’Usman Abdullah Al-Mirgani. “Mahkota Tafsir jilid I”. Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung. 2009.
[10] Tafsir JalallainDepag RI. 2000.Al Quran dan Terjemahannya, Edisi Baru. Surabaya: CV Karya Utama


Tidak ada komentar:

Posting Komentar